Ibu, Madrasah Pertama yang Menginspirasi

 


Oleh: Lisa Nurlistiani

Orang tua dari Kayyisa Khanza Shafana (Kelas 1C)


"Anak adalah cerminan dari apa yang ia lihat setiap hari." Kalimat itu baru benar-benar saya pahami setelah menjadi seorang ibu. Sebelum menikah, saya adalah perempuan yang senang merantau.  Saya lahir dan besar di Purbalingga, melanjutkan kuliah di Semarang, kemudian bekerja di Bogor. Dunia kerja, target, dan pencapaian pernah menjadi bagian dari kehidupan saya. Hingga akhirnya saya menikah, meninggalkan karier yang telah saya bangun, lalu mengikuti suami menetap di Yogyakarta.

 

Awalnya tidak mudah menjalani peran baru sebagai ibu rumah tangga. Ada rasa kehilangan, bahkan sesekali muncul pertanyaan dalam hati, "Apakah aku masih menjadi perempuan yang keren?" Di tengah masyarakat, status ibu rumah tangga terkadang dipandang sebelah mata. Padahal, bukan berarti seorang ibu tidak menghasilkan. Hanya saja, hasil kerjanya tidak dihitung dalam angka dan tidak pernah tercetak di slip gaji. Pekerjaan seorang ibu dibayar dengan pelukan anak, senyum keluarga, dan harapan akan lahirnya generasi yang lebih baik.

 

Saya memilih membersamai anak-anak bukan karena tidak memiliki mimpi, tetapi karena saya percaya bahwa pada tahun-tahun pertama kehidupan mereka, orang tualah dunia yang paling dekat. Apa yang mereka lihat setiap hari akan menjadi pelajaran pertama yang mereka bawa hingga dewasa. Saya berharap, jika ada satu saja kebiasaan baik yang mereka tiru dari saya, semoga itu menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir hayat.

 

Namun menjadi ibu juga berarti belajar setiap hari. Saya pernah merasa tertinggal ketika melihat teman-teman yang kariernya semakin bersinar, sementara saya menghabiskan hari dengan memasak, mencuci, menyetrika, dan membersamai anak belajar. Rasanya seperti semua orang sedang berlari ke depan, sedangkan saya justru berjalan ke belakang. Sampai akhirnya saya sadar, ternyata saya juga sedang bertumbuh.

 

Kalau dulu kesabaran saya mungkin setipis tisu yang dibagi dua, sekarang alhamdulillah meningkat menjadi setipis kertas HVS 75 gram. Masih perlu banyak belajar, tetapi setidaknya ada kemajuan. Ternyata, bukan hanya anak yang sedang tumbuh. Seorang ibu pun ikut bertumbuh bersama anak-anaknya.

 

Saya juga pernah dihampiri rasa cemas. Ketika melihat anak-anak seusia Kayyisa sudah memiliki banyak kemampuan, saya bertanya-tanya dalam hati, "Apakah cara saya mendidiknya sudah benar?" Hingga suatu hari, ketika kami sedang bermain bersama, saya bertanya kepadanya. "Kayyisa, nanti kalau sudah besar ingin jadi apa? Dokter? Guru?" Ia menggeleng. "Aku mau jadi seperti Ibu." Saya tersenyum sekaligus terkejut. "Jadi ibu?" "Iya." "Kenapa?" "Karena pengin mengurus anak." "Kalau nanti anaknya aktif seperti Kayyisa dan adik?" Dengan wajah polos ia menjawab, "Nggak apa-apa, Bu." Jawaban sederhana itu membuat saya merenung cukup lama.

 

Anak ternyata tidak melihat seberapa tinggi jabatan orang tuanya. Mereka tidak peduli seberapa besar gaji yang dibawa pulang. Yang mereka lihat adalah siapa yang hadir setiap hari, siapa yang memeluk ketika mereka takut, siapa yang mendengarkan cerita mereka, dan siapa yang memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari.

 

Saya melihat sendiri bagaimana Kayyisa mulai meniru hal-hal kecil di rumah. Ia senang membantu menyetrika pakaian. Meski suatu ketika tangannya sempat terkena setrika hingga melepuh, ia tidak menyerah. Setiap ayahnya pulang bekerja, ia bergegas mengambilkan minum sambil berkata, "Ayah, ini esnya segar sekali." Saat waktu makan tiba, ia mengingatkan saya, "Bu, Ayah pasti lapar. Yuk siapkan makan untuk Ayah." Lalu ia sendiri yang dengan penuh semangat menghidangkannya.

 

Saya sadar, semua itu bukan hasil ceramah panjang dari saya. Anak belajar dari apa yang ia lihat. Mereka meniru lebih banyak daripada mendengar. Sejak saat itu saya semakin berhati-hati dalam bersikap. Cara saya berbicara, memperlakukan pasangan, menyikapi masalah, hingga hal-hal kecil di rumah ternyata menjadi pelajaran yang diam-diam direkam oleh anak. Di sinilah saya memahami makna bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya.

 

Rumah menjadi ruang belajar pertama sebelum anak mengenal sekolah. Di rumah, anak belajar tentang kasih sayang, menghormati orang tua, melayani dengan ikhlas, meminta maaf, mengucapkan terima kasih, dan peduli kepada sesama. Nilai-nilai itulah yang kemudian diperkuat ketika mereka berada di lingkungan sekolah. Sebagai orang tua, kita tentu berharap anak-anak memiliki ilmu yang tinggi. Namun lebih dari itu, kita berharap mereka tumbuh dengan adab yang mulia. Sebab ilmu akan menjadi cahaya apabila dihiasi dengan adab. Bukankah para ulama telah mengajarkan bahwa adab didahulukan sebelum ilmu?

 

Semoga kita semua diberi kekuatan untuk terus belajar menjadi orang tua yang menghadirkan keteladanan di rumah. Semoga rumah-rumah kita menjadi madrasah pertama yang penuh cinta, lalu sekolah tempat anak-anak belajar menjadi rumah kedua yang menguatkan nilai-nilai tersebut. Karena pada akhirnya, anak-anak mungkin tidak akan mengingat semua nasihat yang kita ucapkan. Namun mereka akan selalu mengingat bagaimana kita menjalani kehidupan di hadapan mereka.

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama