Ketika Anak Butuh Didengar bukan Diadili

 

Oleh: Mila Widayati, ibunda dari Pradipta Sakha Tarmizi kelas 5A dan Ayyubia Kamila Sakhia Tarmizi kelas 2B

 

Komunikasi dalam keluarga sangatlah penting, terutama komunikasi antara orangtua dan anak. Terkadang sebagai orangtua, kita terlalu fokus pada pekerjaan dan tanggung jawab di keluarga. Sehingga kita lupa bahwa anak-anak tidak hanya butuh untuk diasuh tapi juga perlu didengar. Anak-anak mempunyai hak untuk mengutarakan pendapat, menceritakan segala sesuatu yang terjadi dalam kesehariannya tanpa ada bantahan dari orangtua.

 

Bayangkan ada seorang anak pulang sekolah dengan wajah murung, lalu tiba-tiba membanting tas dan menangis. Reaksi spontan orang tua sering kali adalah bertanya “Mengapa sikapnya begitu?” sambil langsung menegur. Padahal, di balik perilaku itu ada cerita yang belum sempat diceritakan, mungkin diejek teman, mungkin lelah, mungkin kecewa pada dirinya sendiri. Anak-anak, sama seperti orang dewasa, butuh ruang untuk didengar sebelum dinilai. Ketika yang muncul justru penghakiman, anak belajar untuk diam, bukan untuk terbuka.

 

Dengan mendengarkan, kita memberikan ruang anak untuk mengekspresikan pendapat dan mengurangi rasa takut untuk dihakimi. Dengan didengarkan anak belajar untuk berpendapat, dan dari sanalah anak belajar kepercayaan diri dan emosional. Dengan didengarkan, anak belajar untuk terbuka dengan orangtua, maka terjalin hubungan yang baik antara anak dan orangtua. Karena anak merasa aman dan nyaman bercerita dengan orangtua tanpa takut untuk dihakimi.

Dampak orangtua yang selalu menghakimi anak, di antaranya adalah: anak kehilangan kepercayaan diri, anak merasa gagal apabila keinginannya tidak tercapai dan tidak sempurna, hubungan anak dan orangtua akan renggang dan bisa mempengaruhi kehidupan anak di masa depan.

Lalu, apa yang bisa dilakukan orangtua saat momen itu terjadi? Saat anak pulang dengan wajah murung atau menangis, tahan dulu keinginan untuk langsung bertanya “mengapa” atau menegur sikapnya. Coba mulai dengan validasi sederhana, misalnya “Sepertinya hari ini berat ya” lalu beri jeda dan biarkan anak bercerita dengan caranya sendiri, tanpa dipotong atau langsung dinasihati. Pertanyaan “mengapa” bisa menyusul setelah anak merasa didengar, bukan sebagai kalimat pembuka.

 

Mengasuh anak adalah perjalanan panjang dalam ibadah. Anak adalah media kita sebagai orangtua dalam beribadah. Anak-anak tidak butuh orangtua yang sempurna. Anak-anak butuh orangtua yang bisa mendengarkan, memeluk tanpa perlu menghakimi.

 

 

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama